Sabtu, 08 Maret 2014

Dengar kasihku..



Padang pasir yang luas..
Lautan samudra yang sangat luas..
Di tengah bumi yang diameternya berjuta kilometer..
Berdirilah aku ditengah keluasan itu..

Aku menunggumu ...
Wahai kasihku..
Dengan berlinang air mata ini menyimpan rindu..
Berharap dan terus berharap..
Jutaan manusia tersenyum padaku,
Tak ada arti tanpamu..
                                Dengar lah wahai kasihku..
                                Tak sanggup aku menahan semua,
                                Selalu ingin bertemu,
Dengarlah wahai kasihku,
Adakah kau mendengarku?
Apakah di dasar lubuk hatimu, terdapat namaku?
Si sederhana ini?
Yang tak punya raga atas jiwanya sendiri..
                                Dengarlah wahai kasihku..
                                Kapankah kau akan mengikat janji sucimu padaku?
                                Senja kemudian petang..
                                Petang hingga pagi lagi..
                                Aku menunggumu,
                                Berdiri di atas kakiku sendiri..

WANITA CANTIK DAN FACEBOOKKU



Suatu hari, cuaca terlihat sangat mendung. Seperti nya akan turun hujan, awan yang menghitam menemani Wita yang sedang menunggu datangnya bus mandala di halte dekat pasar kota. 



Masalah di kerjanya serasa jadi beban yang berat hingga pikirannya melayang kemana-mana. Wanita muda yang baru saja menduduki jabatan direktur itu sampai tidak melihat kalau ada bus mandala lewat bolak balik di depannya.
Tiba-tiba, ada seorang pemuda mendekatinya. Bukan berniat ngajak kenalan atau ngajak makan tapi cuma mengingatkan tujuan Wita di halte untuk apa? “mau nunggu bus mandala mas, kenapa?” jawab Wita. “saya sudah lihat bus itu lewat berkali-kali mbak. Jangan melamun disini. Halte itu tempat umum, bahaya kalau pikiran lagi tidak fokus,” kata pemuda itu. “terima kasih mas nasehatnya,” kata Wita.
“by the way, nama kamu siapa mbak?” tanya pemuda itu.
Belum sempat menjawab, bus mandala lewat lagi. Wita melambaikan tangan berlari terburu-buru mengejar bus yang akhirnya berhenti sejenak itu. “terima kasih semuanya ya.” ucap Wita sambil melambaikan tangan dan pemuda itu hanya bisa menatap bus yang semakin jauh jaraknya dari tempat ia berdiri.
“ya sudahlah. Mungkin belum jodoh,” gumam pemuda itu. Pemuda itu mengambil handphone di tasnya kemudian update status di facebooknya. “gila, cewek itu cantik!!”
Sesampainya di rumah, Wita berbaring sebentar sambil menunggu ibunya pulang dari kantor. Sambil tiduran, dia membuka HP nya dan melihat status seorang facebookers 30 menit yang lalu bilang “gila, cewek itu cantik!!” melihat banyak yang berkomentar sampai 30 komentar maka Wita pun penasaran. Dia melihat komentar-komentar itu, dan dalam komentar itu tertulis bahwa facebookers dengan nama sie cowok emburadul itu berkomentar bahwa si cewek cantik itu melambaikan tangan tanpa menyebutkan namanya. Wita pun lebih penasaran lagi dan menyangka bahwa itu adalah dia. Wita membuka foto-foto sie cowok emburadul itu, dan tidak salah lagi itu adalah pemuda yang mengingatkannya tadi.
“kenapa aku dan dia bisa berteman di facebook ya,” tanya Wita heran. Semakin penasaran, Wita membuka tentang pemuda itu di facebook. Di situ tertulis bahwa sie cowok emburadul itu pernah bersekolah di SMA yang sama dengannya. “dia kakak kelasku? Jangan-jangan dia yang pernah membuatku menangis dulu?” gumam Wita. Wita membuka foto-foto cowok itu lebih banyak lagi. Dan lebih memastikan dugaan nya lagi. Banyak foto waktu SMA masih tertata rapi di album SMA-KU itu. “huft, dunia ini sempit. Kenapa takdir mempertemukan aku lagi dengan mas Heru. Makin ganteng juga sih dia, makanya sempat tidak mengenalinya. Si jail itu. Tapi gak apa deh, itu kan dulu. Dia juga sepertinya sudah lupa padaku”, terus saja Wita bergumam sendiri di kamarnya.
Tililit... tililiit.. Handphone Wita berdering terus. Wita bergegas melihat Handphonenya. Ternyata mantan Wita, Desta yang menelepon. Tidak juga oleh Wita diangkat, Desta pun sms. Bunyinya “aq k rmh u mlm ni, t3u ya”. wita membalas, “gK ush deh, aq repot.”
Kemudian Wita pun teringat kembali ketika terakhir kali Desta ke rumah dengan pacarnya yang baru. Membawakan Wita kado ulangtahun sambil mengatakan niatnya untuk putus dari Wita. Dengan muka sedih, Wita mengatakan segala kenangan tak kan pernah berakhir meski tidak bersama lagi. Wita menyesal mengatakan itu, sama sekali dia merasa rendah dengan perkataannya itu. Tetapi, untuk melarang Desta ke rumah itu tidak mungkin dia lakukan, karena mama dan papanya sangat mempercayakan urusan elektronik kepada Desta. Desta adalah sarjana teknik dengan kemampuan berbicara yang sangat baik, sehingga pelanggannya pun sangat banyak.
Jarum jam rumah menunjukkan tepat pukul tujuh malam. Dengan harap cemas Wita menunggu papa mamanya pulang dari mushala depan rumahnya agar dia tidak membukakan pintu untuk Desta. Namun tiba-tiba, ting... tung... suara bel rumah berbunyi. Spada! ada orang di rumah???” teriak Desta. Wita membiarkan Desta terus teriak di depan rumah. Berkali-kali dia mengintip ke luar dari jendela kamarnya. Akhirnya papa mama Wita sampai juga di rumah. Kemudian membuka pintu dan mencari Wita di dalam rumah, “mungkin dia tidur Ma,” kata papa Wita. Mamanya terus mengomel, “Wita ini kamu gimana? Ada tamu bukannya dibukakan. Nanti kalau Desta pulang terus yang membenarkan TV mama siapa? Kamu dimana?”, seketika mamanya pun diam ketika melihat anak tersayangnya itu tidur. Kemudian menutup pintu kamar Wita kembali dan berkata kepada papanya, “iya dia tidur Pa.”
Di dalam kamar, Wita berpikir tentang salah kah apa yang dia lakukan. Tidak membukakan pintu untuk orang yang sudah berkhianat padanya itu. Menduakan kesetiaan dia hingga mengorbankan semua waktunya.
Setahun kemudian, Wita mendatangi halte tempat dia bertemu Heru. Saat itu halte sepi tanpa pengunjung satu pun. Wita mengingat kembali ketika dia bersama Heru pertama kali setahun yang lalu. Kini hubungan mereka menjadi semakin dekat, keduanya bertunangan walau hubungan masih berumur jagung namun 2 tahun selama di SMA dulu sudah cukup untuk saling mengenal.