Suatu hari, cuaca terlihat sangat mendung. Seperti nya
akan turun hujan, awan yang menghitam menemani Wita yang sedang menunggu
datangnya bus mandala di halte dekat pasar kota.
Masalah di kerjanya serasa
jadi beban yang berat hingga pikirannya melayang kemana-mana. Wanita muda yang baru
saja menduduki jabatan direktur itu sampai tidak melihat kalau ada bus mandala
lewat bolak balik di depannya.
Tiba-tiba, ada seorang pemuda mendekatinya. Bukan berniat
ngajak kenalan atau ngajak makan tapi cuma mengingatkan tujuan Wita di halte
untuk apa? “mau nunggu bus mandala mas, kenapa?” jawab Wita. “saya sudah lihat
bus itu lewat berkali-kali mbak. Jangan melamun disini. Halte itu tempat umum,
bahaya kalau pikiran lagi tidak fokus,” kata pemuda itu. “terima kasih mas
nasehatnya,” kata Wita.
“by the way, nama kamu siapa mbak?” tanya pemuda itu.
Belum sempat menjawab, bus mandala lewat lagi. Wita melambaikan
tangan berlari terburu-buru mengejar bus yang akhirnya berhenti sejenak itu.
“terima kasih semuanya ya.” ucap Wita sambil melambaikan tangan dan pemuda itu
hanya bisa menatap bus yang semakin jauh jaraknya dari tempat ia berdiri.
“ya sudahlah. Mungkin belum jodoh,” gumam pemuda itu.
Pemuda itu mengambil handphone di tasnya kemudian update status di facebooknya.
“gila, cewek itu cantik!!”
Sesampainya di rumah, Wita berbaring sebentar sambil menunggu
ibunya pulang dari kantor. Sambil tiduran, dia membuka HP nya dan melihat
status seorang facebookers 30 menit yang lalu bilang “gila, cewek itu cantik!!”
melihat banyak yang berkomentar sampai 30 komentar maka Wita pun penasaran. Dia
melihat komentar-komentar itu, dan dalam komentar itu tertulis bahwa
facebookers dengan nama sie cowok emburadul itu berkomentar bahwa si cewek
cantik itu melambaikan tangan tanpa menyebutkan namanya. Wita pun lebih
penasaran lagi dan menyangka bahwa itu adalah dia. Wita membuka foto-foto sie
cowok emburadul itu, dan tidak salah lagi itu adalah pemuda yang
mengingatkannya tadi.
“kenapa aku dan dia bisa berteman di facebook ya,” tanya
Wita heran. Semakin penasaran, Wita membuka tentang pemuda itu di facebook. Di
situ tertulis bahwa sie cowok emburadul
itu pernah bersekolah di SMA yang sama dengannya. “dia kakak kelasku?
Jangan-jangan dia yang pernah membuatku menangis dulu?” gumam Wita. Wita
membuka foto-foto cowok itu lebih banyak lagi. Dan lebih memastikan dugaan nya
lagi. Banyak foto waktu SMA masih tertata rapi di album SMA-KU itu. “huft,
dunia ini sempit. Kenapa takdir mempertemukan aku lagi dengan mas Heru. Makin
ganteng juga sih dia, makanya sempat tidak mengenalinya. Si jail itu. Tapi gak
apa deh, itu kan dulu. Dia juga sepertinya sudah lupa padaku”, terus saja Wita
bergumam sendiri di kamarnya.
Tililit... tililiit.. Handphone Wita berdering terus.
Wita bergegas melihat Handphonenya. Ternyata mantan Wita, Desta yang menelepon.
Tidak juga oleh Wita diangkat, Desta pun sms. Bunyinya “aq k rmh u mlm ni, t3u
ya”. wita membalas, “gK ush deh, aq repot.”
Kemudian Wita pun teringat kembali ketika terakhir kali
Desta ke rumah dengan pacarnya yang baru. Membawakan Wita kado ulangtahun
sambil mengatakan niatnya untuk putus dari Wita. Dengan muka sedih, Wita
mengatakan segala kenangan tak kan pernah berakhir meski tidak bersama lagi.
Wita menyesal mengatakan itu, sama sekali dia merasa rendah dengan perkataannya
itu. Tetapi, untuk melarang Desta ke rumah itu tidak mungkin dia lakukan,
karena mama dan papanya sangat mempercayakan urusan elektronik kepada Desta.
Desta adalah sarjana teknik dengan kemampuan berbicara yang sangat baik,
sehingga pelanggannya pun sangat banyak.
Jarum jam rumah menunjukkan tepat pukul tujuh malam. Dengan
harap cemas Wita menunggu papa mamanya pulang dari mushala depan rumahnya agar
dia tidak membukakan pintu untuk Desta. Namun tiba-tiba, ting... tung... suara
bel rumah berbunyi. Spada! ada orang
di rumah???” teriak Desta. Wita membiarkan Desta terus teriak di depan rumah. Berkali-kali
dia mengintip ke luar dari jendela kamarnya. Akhirnya papa mama Wita sampai
juga di rumah. Kemudian membuka pintu dan mencari Wita di dalam rumah, “mungkin
dia tidur Ma,” kata papa Wita. Mamanya terus mengomel, “Wita ini kamu gimana?
Ada tamu bukannya dibukakan. Nanti kalau Desta pulang terus yang membenarkan TV
mama siapa? Kamu dimana?”, seketika mamanya pun diam ketika melihat anak
tersayangnya itu tidur. Kemudian menutup pintu kamar Wita kembali dan berkata
kepada papanya, “iya dia tidur Pa.”
Di dalam kamar, Wita berpikir tentang salah kah apa yang
dia lakukan. Tidak membukakan pintu untuk orang yang sudah berkhianat padanya
itu. Menduakan kesetiaan dia hingga mengorbankan semua waktunya.
Setahun kemudian, Wita mendatangi halte tempat dia bertemu
Heru. Saat itu halte sepi tanpa pengunjung satu pun. Wita mengingat kembali
ketika dia bersama Heru pertama kali setahun yang lalu. Kini hubungan mereka
menjadi semakin dekat, keduanya bertunangan walau hubungan masih berumur jagung
namun 2 tahun selama di SMA dulu sudah cukup untuk saling mengenal.